KEBUDAYAAN ISLAM NUSANTARA PADA TRADISI BABARITAN DI KAMPUNG ADAT KRANGGAN, BEKASI

KOESTANTO, R. RISKI DWI (2025) KEBUDAYAAN ISLAM NUSANTARA PADA TRADISI BABARITAN DI KAMPUNG ADAT KRANGGAN, BEKASI. Diploma thesis, UNUSIA.

[thumbnail of R. RISKI DWI KOESTANTO - 21220002.pdf] Text
R. RISKI DWI KOESTANTO - 21220002.pdf

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik Kebudayaan Islam Nusantara yang tercermin dalam Tradisi Babaritan di Kampung Adat Kranggan, Kota Bekasi. Tradisi Babaritan yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat merupakan representasi dari sintesis kearifan lokal budaya Sunda dan ajaran Islam. Penelitian ini secara khusus berfokus pada tiga hal utama: (1) menjelaskan konteks sejarah dan perkembangan Tradisi Babaritan sebagai bagian dari Islam Sunda, (2) mengidentifikasi nilai-nilai Islam Nusantara yang hidup dalam pelaksanaan tradisi tersebut, serta (3) mengeksplorasi upaya dan strategi pelestarian Tradisi Babaritan di tengah perubahan sosial dan modernisasi kota.
Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan antropologi sejarah. Penelitian dilakukan di Kampung Adat Kranggan, Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat (kolot) dan masyarakat, serta studi dokumentasi terhadap literatur dan arsip sejarah. Teknik analisis data menggunakan model analisis Spradley, yang meliputi analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya. Teori sintesis budaya dari Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan pemikiran M.C. Ricklefs tentang Islamisasi di Jawa digunakan untuk menjelaskan integrasi antara nilai Islam dan budaya lokal dalam praktik Tradisi Babaritan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Kampung Kranggan berasal dari kata "Rangga", yang merupakan gelar pemimpin pasukan Mataram. Selain itu, nama ini juga diambil dari gabungan kata "Karang" dan "Gan". Jenis nama tempat seperti ini banyak ditemukan di kota-kota di Jawa Tengah, seperti Semarang dan Yogyakarta. (2) Tradisi Babaritan merupakan warisan budaya yang menggabungkan unsur Islam dengan tradisi lokal masyarakat Sunda. Aspek budaya terlihat dalam penggunaan kalender Jawa-Sunda (bulan Apit), pemilihan tempat ritual di empat penjuru mata angin, dan penggunaan sesaji hasil bumi sebagai simbol rasa syukur. Sementara aspek Islam tercermin dari pembacaan doa keselamatan, tahlil, dan sedekah bumi yang ditujukan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Masyarakat percaya bahwa tradisi ini memiliki nilai spiritual sekaligus sosial karena memperkuat solidaritas dan kohesi antarwarga. (3) Pelestarian tradisi ini menunjukkan pentingnya peran tokoh adat, pendidikan budaya, dan pengakuan dari negara (melalui status warisan budaya tak benda) dalam menjaga warisan leluhur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi kajian Islam Nusantara dan pelestarian tradisi keagamaan berbasis budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Item Type: Thesis (Diploma)
Additional Information: Pembimbing: Alanuari, MA.
Uncontrolled Keywords: Islam Nusantara, Tradisi Babaritan, Kampung Adat Kranggan.
Subjects: 200 – Agama > 200 Agama > 203 Praktik keagamaan lainnya
Divisions: Fakultas Islam Nusantara > S1 Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Mr. Anas Ahmad Anas Gozali
Date Deposited: 27 Jan 2026 06:47
Last Modified: 27 Jan 2026 06:47
URI: https://repository.unusia.ac.id/id/eprint/945

Actions (login required)

View Item
View Item