Sejarah Jamiatul Khair dalam pembentukan masyarakat Betawi (Studi kasus sejarah Islam Betawi Abad XX)

Sholihatun, Sholihatun (2018) Sejarah Jamiatul Khair dalam pembentukan masyarakat Betawi (Studi kasus sejarah Islam Betawi Abad XX). Masters thesis, UNUSIA.

[thumbnail of Sejarah Jamiatul Khair dalam Pembentukan Masyarakat Islam Betawi-SHOLIHATUN.pdf] Text
Sejarah Jamiatul Khair dalam Pembentukan Masyarakat Islam Betawi-SHOLIHATUN.pdf

Download (9MB)

Abstract

Islam tidak hanya di wilayah yang dikenal dengan Timur Tengah. Islam di Indonesia sangat kosmopolitan, terkait dengan dinamika dan perkembangan Islam di wilayah-wilayah lain dunia Muslim, sehingga Islam di Indonesia tidak berkembang secara terpisah. Sayangnya, biografi ulama Nusantara secara lengkap masih sangat langka. Salah seorang pioner penulis buku biografi ulama Nusantra adalah Sirajuddin Abbas yang menulis Ṭabaqātal-Syāfi’iyyah dan mulai muncul semacam ‘kamus biografi ulama’ mulai abad ke-17. Genre literatur tarajim (biografi) para ulama Nusantara sangat dibutuhkan. Kebutuhan itu bukan hanya untuk mengetahui biografi ulama tersebut, tetapi juga untuk merekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam.

Belakangan ini, kajian tentang pendidikan dan tokoh Islam di Indonesia telah diakukan oleh berbagai kalangan akademisi dengan pendekatan dan disiplin keilmuan yang beragam. Secara umum, berbagai kajian dan penelitian itu telah membuktikan tingginya peran dan posisi pendidikan dan tokoh agama dalam perkembangan budaya, dakwah keagamaan, transmisi keilmuan-pendidikan keagamaan, perubahan sosial, dan pertumbuhan lembaga-lembaga keagamaan, dan pembentukan corak pemikiran keagamaan masyarakat sekitar. Bahkan, para ulama dan tokoh agama juga dipandang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter bangsa, perjuangan kemerdekaan, perkembangan politik lokal, dan pengembangan wacana keagamaan di masyarakat. Sedemikian tingginya peran pengaruh agama bagi masyarakat sekitar, sampai-sampai kehidupannya memiliki pengaruh terhadap sosial-budaya, sosial-ekonomi, sosial politik, dan sebagainya.

Sejak awal abad ke-17 umat Islam Jayakarta diperkenalkan dengan ideologi kolonialisme, sebuah pahan yang menempatkan rakyat sebagai budak dimana hak ekonominya dieksploitasi dan hak politiknya direndahkan harkat dan martabatnya. Sejak itu kaum muslim menyingkir kepinggiran Jakarta, terutama ke wilayah selatan dan timur dikenal Jatinegara. Kaum yang sampai sekarang masih eksis tradisi-tradisi budaya muludan, ratiban, shalawatan dan zikiran.

Identitas masyarakat Betawi menurut Lance Castel yang dikutip oleh Parsudi Suparlan dalam bukunya‚ Masyarakat dan Kebudayaan Perkotaan‛ secara historis disimpulkan,masyarakat Betawi sebagai sebuah kelompok etnik mulai dikenal sejak abad ke-19. Identitas kelompok ini merupakan hasil dari suatu melting pot atau pencampuran dari berbagai kelompok etnik yang berasal dari berbagai wilayah di kepulauan Indonesia dan luar Indonesia. Orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnik dibedakan dari kelompok-kelompok etnik lainnya sejak akhir abad ke-19.

Dalam pencatatan penduduk tahun 1893 terdapat penyederhanaan golongan sosial dari penduduk di Batavia. Terdiri dari empat golongan yaitu: bangsa Eropa dan Indo, bangsa Cina (termasuk peranakan), bangsa Arab dan‚ Moors‛, Orang Pribumi (orang Betawi).

Masyarakat Betawi mayoritas penduduknya menganut Ajaran Islam. Ada beberapa mengenai asal-usul Mayarakat Betawi, salah satunya yaitu aliran (madzhab) Kali Besar yang menganggap bahwa populasi Kali Besar dan sekitarnya adalah sama dengan populasi Betawi.5 Berawal dari runtuhnya Kraton Jayakarta yang diserang pasukan Jan Pieterszon Coen pada tahun 1619. Kraton Jayakarta yang didirikan di tepi kali besar dibakar dan seluruh penghuninya baik kerabat Kraton maupun rakyat biasa diusir keluar dari kawasan kali besar. Jan Pieterszon Coen membangun kota baru, untuk mendatangkan budak dari berbagai penjuru nusantara, serta dari luar yaitu Arakan (Buerma), Andaman, dan Malabar (India). Budak tersebut yang menurut castle merupakan leluhur orang-orang Masyarakat Betawi. Kemudian berkembang dengan masuknya pengaruh antar etnis dari penjuru nusantara.

Pada abad ke-19, banyak orang-orang Betawi yang menuntut ilmu di Makkah yang menjadi pelopor pembaharuan pemikiran baru yang tadinya Islam mistik berubah menjadi pemahaman Islam Syariat. Sehingga dalam semua segi kehidupan selalu didasarkan pada hukum Islam syariat.

Sebagaimana etnis lainnya, orang Betawi atau etnis Betawi ini pun memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Betawi yang secara linguistis-historis merupakan salah satu dialek areal dari bahasa Melayu. Selain itu, Betawi juga memiliki adat istiadat dan budaya etnis lainnya misalnya adat istiadat dan budaya Sunda yang melingkupi tempat tinggal orang Betawi dari tiga sisi: barat, selatan dan timur, bagian sebelah utara berbatasan dengan laut Sunda.7 Orang Betawi sebenarnya komunitas suku yang dalam naskah-naskah abad XVI dan XVII disebut sebagai orang Melayu atau orang Melayu di Jawa. Sekalipun kelompok-kelompok Betawi bukanlah hal yang baru masalahnya amat sedikit pengamat yang menyadarinya dan lebih sedikit dari mereka yang memperdulikannya.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Jamiatul Khair, Islam dan Betawi
Subjects: 900 – Sejarah dan Geografi > 900 Sejarah > 907 Pendidikan, riset penelitian sejarah dan topik terkait
Divisions: Fakultas Islam Nusantara > S2 Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Unnamed user with email anasghozali@unusia.ac.id
Date Deposited: 08 Aug 2023 06:37
Last Modified: 10 Aug 2023 07:41
URI: https://repository.unusia.ac.id/id/eprint/35

Actions (login required)

View Item
View Item