Peran tradisi riyadhah dalam membentuk karakter santri (Studi kasus Pesantren Darul falah Kudus, Pesantren asrama Perguruan Islam Magelang dan Pesantren Bustanu Ussyaqil Qu'an Semarang)

Hakim, Lukmanul (2017) Peran tradisi riyadhah dalam membentuk karakter santri (Studi kasus Pesantren Darul falah Kudus, Pesantren asrama Perguruan Islam Magelang dan Pesantren Bustanu Ussyaqil Qu'an Semarang). Masters thesis, UNUSIA.

[thumbnail of Tradisi Riyadhah-Lukmanul Khakim.pdf] Text
Tradisi Riyadhah-Lukmanul Khakim.pdf

Download (6MB)

Abstract

Pesantren merupakan sebuah instansi yang mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam proses Islamisasi di Nusantara. Peranan Pesantren memang tidak dapat dinafikan dalam membentuk tradisi-tradisi yang tumbuh dan berkembang di Nusantara. Tradisi-tradisi yang tumbuh di Pesantren yaitu seperti tradisi sanad keilmuan,
tradisi tasawuf, tradisi tarekat, tradisi riyâdhah atau tirakat dan tradisi-tradisi ritual lainnya. Semua tradisi itu masih sangat kental dan hidup sampai saat ini di lingkungan Pesantren. Pesantren menjadi salah satu pilar utama dalam menghidupkan dan mengembangkan semua tradisi-tradisi tersebut. Keberadaan Pesantren yang sedemikian kental dengan tradisi tasawuf sejalan dengan statement A.H. John. Menurut A.H. John bahwa para sufi berhasil mengislamkan sejumlah besar penduduk Nusantara setidaknya sejak abad ke-13. Faktor yang paling utama keberhasilan konversi adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontinuitas ketimbang perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal. Melalui pendekatan tasawuf sebagai sebuah kategori dalam literatur dan sejarah melayu-Indonesia, John memeriksa sejumlah sejarah lokal untuk memperkuat hujjah-nya. Menurut John banyak sumber lokal mengaitkan pengenalan Islam ke kawasan ini dengan guru-guru pengembara dengan karakteristik sufi yang kental. Pondok, masjid, santri, pengajaran kitab klasik2 dan kyai adalah lima elemen dasar dari tradisi pesantren.3 Hal ini menunjukkan bahwa suatu lembaga pengajian yang telah berkembang sehingga memiliki lima elemen dasar tersebut dapat mengubah statusnya menjadi pesantren. Di Indonesia biasanya orang membedakan kelas-kelas pesantren dalam tiga kelompok yaitu pesantren kecil, menengah dan besar. 4 Kemudian beberapa pesantren besar memiliki popularitas yang dapat menarik santri-santri dari seluruh Indonesia. Kemasyhuran seorang kyai dan kedalaman pengetahuan tentang Islam juga menarik santri-santri dari tempat jauh untuk menimba ilmu. Kyai adalah pengasuh para santri dan tauladan dari seluruh anggota masyarakat. Sosok ulama’ atau kyai lazim dikenal karena suri tauladannya yaitu bagaimana praktik syari’at itu menjadi laku (amal) sehari-hari. Di samping itu, sosok kyai pun dapat menempati ruang khusus di hati umat karena pernyataan-pernyataan, wasiat-wasiat atau wejangan-wejangan mereka kepada orang terdekat dan para santri serta masyarakat secara umum. Secara etimologi, istilah pesantren berasal dari kata “santri”. Kata santri merupakan gabungan antara suku kata sant (manusia baik) dan tra (suka menolong). Pesantren merupakan sebuah istilah dengan awalan pe- dan akhiran-an. Jadi pesantren dapat diartikan tempat tinggal para santri sebagai tempat untuk mendidik manusia menjadi baik. Menurut C.C. Berg, dalam bahasa India shastri berarti orang yang mengerti kitab suci agama Hindu. Pesantren dapat diartikan sebagai tempat para pelajar (santri) tinggal bersama-sama untuk tenggang waktu tertentu di bawah asuhan seorang kyai atau Syaikh dibantu beberapa guru yang dikenal dengan istilah ustadz. Dalam konteks pesantren, jadi santri adalah seorang murid yang mempelajari kitab-kitab atau ilmu-ilmu agama Islam. Jadi pesantren adalah tempat berlangsungnya interaksi kyai dengan santri dalam rangka mempelajari dan mentransfer ilmu-ilmu agama Islam. Pada perkembangan selanjutnya santri terbagi menjadi dua yaitu santri mukim (santri yang menetap dan tinggal di asrama) dan santri kalong (santri yang tidak tinggal di asrama pesantren). Sumber sejarah yang sering menyebutkan pesantren pertama di Jawa adalah pesantren Tegalsari di Ponorogo. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa jumlah santri di Pesantren Tegalsari mencapai ribuan. Bahkan Pesantren Tegalsari banyak memunculkan santri yang memiliki kedalaman ilmu agama dan kesaktiannya (digdaya) yang tersebar di seluruh Jawa. Salah satu santrinya yang terkenal sebagai santri pesantren Tegalsari adalah Raden Ronggowarsito.11
Pesantren merupakan sebuah instansi yang mempunyai sistem pendidikan yang asli dari Indonesia. Dalam sistem pendidikan pesantren berdasarkan pada nilai-nilai budaya bangsa sendiri yaitu kekeluargaan. Dalam sistem tersebut hubungan antara kyai sebagai guru dan santri sebagai murid adalah bagaikan anak dan bapak dalam
sebuah keluarga yang harmonis, sehingga nilai individualisme dan intelektualisme dianggap tidak cocok. Hal lain yang menarik perhatian adalah nilai keswadayaan dan kesederhanaan12 yang meliputi hidup keseharian sehingga nilai-nilai materialisme dianggap bertentangan dalam komunitas pesantren. Jumlah pesantren yang terdapat di Nusantara sampai 2007 mencapai 14.656. secara garis besar memiliki tiga macam tipologi. Pertama pesantren yang memiliki corak tradisional yang mencapai 9.105 pesantren. Kedua, pesantren yang memiliki corak modern mencapai 1.172 pesantren. Ketiga pesantren yang merupakan perpaduan antara corak tradisional dan modern mencapai 4.379 pesantren. Gambaran tentang corak dan tipologi di atas hanya garis besarnya saja, sedangkan karakteristik atau ciri khas masing-masing pondok pesantren di Indonesia sangat berbeda-beda atau beragam. Ada yang terkenal dengan nahwu sarafnya, ada yang terkenal ushul fikihnya, tafsirnya dan ada yang berfokus dengan kegiatan tasawufnya. Bahkan ada juga pesantren yang memadukan dalam menekuni antara keilmuan-keilmuan Islam dan laku spiritual atau asketisme. Seperti contoh pesantren Termas di Pacitan terkenal dengan karakteristik kyai-kyai yang ahli tata bahasa Arab, KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng terkenal sekali sebagai ahli hadis sedangkan pesantren Jampes Kediri terkenal dengan kyai-kyainya yang ahli dalam bidang tasawuf. Kemasyhuran seorang kyai dan jumlah maupun mutu-mutu kitab-kitab yang diajarkan di pesantren menjadi faktor yang membedakan antara satu pesantren dengan pesantren lainnya. Pondok Pesantren Lasem terkenal dengan Fiqihnya dan pesantren Krapyak terkenal sebagai pondok penghafal Al-Qur’an. Semua karakteristik jenis pesantren di atas yang membedakan antara pesantren satu dengan pesantren lainnya. Sufistik dan ubudiyah merupakan nuasa yang kental dalam tradisi pesantren. Ibadah fardhu dilengkapi dengan shalat-shalat sunnah, zikir, wirid, dan ratib merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi pesantren. Banyak kyai pesantren yang berafiliasi dengan tarekat kemudian mengajarkan kepada pengikutnya
ibadah dan amalan sufistik yang khas. Kitab-kitab tasawuf dan akhlak mendapatkan porsi bagian seperempat dari karangan-karangan ulama’ tradisional. Nabi dan Ahl -al-Bait sangat dimuliakan dan menjadi objek
sejumlah shalawat. Makam para wali dan sejumlah kyai menjadi tempat ziarah serta dimintakan keberkahannya oleh kalangan santri. Pesantren sebagai representasi lembaga yang menghidupkan tradisi tasawuf, dalam kehidupan sehari-harinya dipenuhi dengan latihan-latihan mistik (latihan spiritual) seperti bentuk puasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, zikir dan pembacan aurad lainnya yang berasal dari ulama’ salaf. Tetapi ada juga pesantren yang kurang memperhatikan terhadap aspek-aspek askestisme itu. Hal itu tergantung dari tradisi yang berkembang di pesantren masing-masing dan juga figur serta peran kyai juga sangat mempengaruhi. Pesantren merupakan salah satu instansi yang banyak melahirkan tokoh-tokoh yang mempunyai kemampuan intelektual dan spiritual. Dalam proses pembelajaran di pesantren tidak hanya mengajar ketekunan dan kegigihan dalam mencari ilmu tetapi juga mengajarkan riyâdhah atau tirakat 18 (latihan spiritual) dalam proses mendapatkan ilmu. Ketekunan dan kegigihan sebagai sebuah usaha lahiriyyah memang harus ditekankan tetapi riyâdhah atau tirakat sebagai usaha batiniyyah juga tidak dihilangkan begitu saja. Riyâdhah merupakan sebuah manifestasi kepasrahan manusia terhadap kelemahan akalnya di depan Allah dan sebagai sebuah upaya mendapat ilmu dengan rahasia-rahasia Allah. Dalam tradisi pesantren proses pencarian ilmu terdapat dikotomi. Pertama ’alim karena memang belajar dan mempunyai guru. Kedua ’alim karena ilmu ladunni yaitu kepandaian yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang dipilih. Ilmu ladunni diperoleh langsung dari Allah karena laku spiritual. Kepandaiannya yang kedua ini biasanya dimiliki oleh seseorang dari keturunan kyai atau ulama’ yang biasanya menjalani laku tirakat atau riyâdhah dan dikenal sangat karismatik. Hanya saja laku tirakat atau riyâdhah antara kyai berbeda-beda. Melalui keberadaan pesantren yang sedemikian kental dalam kehidupan masyarakat, praktik-praktik tradisi keilmuan Islam dapat berkembang dengan pesat. Dan lebih luas lagi, melalui jaringan ke-ulamaan dan kepesantrenan itulah tradisi Islam Nusantara dapat dipertahankan dan dikembangkan.20 Begitu juga tradisi-tradisi spiritual seperti tarekat, suluk, zikir, manakiban, salawatan, tirakat dan riyâdhah juga masih bertahan di pesantren. Pesantren Tegalrejo merupakan salah satu pesantren yang terkenal sebagai pesantren tasawuf sebagaimana beberapa pesantren lainnya di Jawa yang memiliki karakteristik tertentu pula. Namun demikian di pesantren Tegalrejo tidak hanya mengajarkan tasawuf. Di pesantren Tegalrejo terdapat tiga mata pelajaran pokok yaitu Tauhid
(Teologi Islam), Fikih (Hukum Islam) dan Tasawuf (Mistisme Islam). Pesantren Tegalrejo tidak hanya dididik untuk mempelajari isi kitab yang diajarkan tetapi juga mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Di pesantren Tegalrejo mulai santri tingkat tiga (alfiyah) para santri diwajibkan melakukan riyâdhah dalam bentuk menahan hawa nafsu. Dalam praktiknya riyâdhah di pesantren Tegalrejo diserap dari tradisi Jawa yang kemudian mewarnai bentuk ekspresi askestisme Islam.26 Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pesantren Tegalrejo merupakan pesantren yang mempraktikkan kedua pendekatan yaitu kesungguhan dalam pencarian ilmu dari para guru (kyai) dan didukung dengan praktik riyâdhah dalam proses pencarian ilmu. Pesantren lain yang masih kental dengan nuansa spiritualnya adalah pesantren Darul Falah Jengkulo Kudus. Pesantren Darul Falah Jengkulo Kudus sangat terkenal dengan tradisi riyâdhah-nya. Tradisi riyâdhah di Pesantren ini berbentuk praktik puasa Dalâil al-Khairât dan puasa dengan amalan-amalan hizib beserta aurad lainnya Tradisi riyâdhah di pesantren Darul Falah Kudus tidak terlepas dari figur utama yaitu Kyai Ahmad Basyir. Beliau adalah ulama’ dan kyai karismatik di kudus yang menghidupkan tradisi riyâdhah. Beliau sangat terkenal sebagai tokoh yang mempunyai otoritas dalam memberikan ijazah (mujîz atau sohibul izajah) berbagai macam riyâdhah
dari amalan-amalan hizib yang beliau pernah lakukan ketika masih nyantri di pesantrennya Mbah Yasin.28
Pada perkembangnya tradisi riyâdhah ini dilanjut oleh Kyai Ahmad Basir29 yang menjadi rujukan para santri dan masyarakat untuk meminta ijazah. Sebagaian besar para santrinya juga menjalankan tradisi riyâdhah sebagaimana yang dulu Mbah Basyir lakukan ketika masih nyantri. Hal yang menarik dari tradisi riyâdhah adalah puasa dahr satu tahun penuh atau Dalâil tiga tahun berturut-turut tanpa putus yang mampu dilakukan oleh para santri. Setelah semua santri selesai melakukan puasa dahr, tidak semua santri itu mempunyai otoritas untuk menyebarkannya dengan cara memberikan ijazah kepada setiap orang. Di Kabupaten Semarang juga terdapat sejumlah Kyai yang menjadi mujîz dari tradisi riyadhîh puasa Dalâil al-Khairât dan berbagai
macam aurad lainnya. Salah satunya adalah bernama Kyai Abdullah Hanif. Kyai Abdullah Hanif terkenal sebagai seorang Kyai yang ahli riyâdhah dan menjadi mujîz dari bermacam-macam amalan yang diperoleh dari guru-gurunya. Kyai Hanif memberikan berbagai macam ijazah di daerah Kabupaten Semarang31 dan sekitarnya. Kyai Abdullah Hanif merupakan pendiri dan sekaligus pengasuh Pesantren Bustanu Usysyaqil Qur’an (selanjutnya di tulis BUQ) Gading Tengaran Semarang. Pesantren BUQ mempunyai banyak amalan riyâdhah dan tirakat yang sangat khas dibandingkan dengan pesantren lainnya. Mungkin di Pesantren yang ada di Nusantara ini masih sangat langka. Pesantren BUQ sangat menekankan untuk selalu sholat jama’ah, banyak zikir dan berpuasa. Segudang amalan terdapat dalam Pesantren BUQ yang bersumber dari berbagai guru di tanah Jawa. Sayang sekali sangat jarang yang mengekspos amalan-amalan itu dan sedikit sekali yang mengangkat biografi para kyai pengamal riyâdhah. Salah satu amalan riyâdhah dari Pesantren BUQ adalah pembacaan Dalâil al-Khairât, Dalâil al-Qur’an, hizib, shalawat nariyahataupun pembacaan aurad lainnya. Dalam melaksanakan amalan-amalan itu para santri harus melakukan puasa disertai dengan do’a yang telah ditentukan oleh kyai. Meski banyak orang yang mecibir tradisi ini tetapi di Pondok pesantren BUQ masih menjadi tradisi yang hidup hingga sekarang serta menjadi bagian dari tradisi spiritual para santri. Di Pesantren BUQ Gading tradisi pembacaan hizib serta
amalannya dinamakan dengan tradisi riyâdhah atau tirakat. Tradisi riyâdhah dan tirakat merupakan tradisi yang sudah berakar lama yang juga sering dilakukan oleh para raja terdahulu. Tetapi dalam tradisi orang jawa (kejawen) lebih sering mengenal tirakat dari pada riyâdhah. Sebenarnya kata riyâdhah atau tirakat
mempunyai makna yang hampir sama tetapi hanya berbeda dalam penyebutan. Dan kedua kata itu juga awalnya berasal dari bahasa Arab. Kalau dalam kejawen itu tirakat lebih cenderung kepada berpuasa atau bersemedi sedangkan riyâdhah maknanya lebih luas.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: tradisi riyadhah
Subjects: 200 – Agama > 200 Agama > 201 Mitos keagamaan dan teologi sosial
Divisions: Fakultas Islam Nusantara > S2 Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Unnamed user with email anasghozali@unusia.ac.id
Date Deposited: 25 Jul 2023 08:57
Last Modified: 10 Aug 2023 06:22
URI: https://repository.unusia.ac.id/id/eprint/21

Actions (login required)

View Item
View Item