Vernakularisasi Al-Qur'an dalam konteks budaya Sunda (Analisis kitab nur Hidayat Suryalaga 1941-2011

Saepudin, Deden (2018) Vernakularisasi Al-Qur'an dalam konteks budaya Sunda (Analisis kitab nur Hidayat Suryalaga 1941-2011. Masters thesis, UNUSIA.

[thumbnail of Vernakularisasi Al-Quran-Deden.pdf] Text
Vernakularisasi Al-Quran-Deden.pdf

Download (7MB)

Abstract

Kajian Islam dengan mengabaikan Al-Qur’an, merupakan suatu langkah yang tidak akan menemukan validitasnya secara memadai. Sebab Al-Qur’an merupakan referensi dan sumber inspirasi utama bagi umat Islam yang tidak akan kering dan tidak akan ada habisnya sampai akhir jaman.2 Oleh karenanya mempelajari Al-Qur’an merupakan keniscayaan. Menurut Muhammad Abd al-Azhim al-Zarqani yang dikutip oleh Azyumardi Azra, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab, dari akar kata qara’a yang berarti “membaca”. Al-Qur’an adalah bentuk mashdar (verb al-naoun) yang diartikan sebagai isim maf’ul, yaitu maqru’. Berarti yang dibaca 3
. Tetapi menurut Shubhi as Shalih definisi tersebut kurang populer. Sedangkan menurut Rosihon Anwar, Al-Qur'an adalah isim masdar dari kata qaraa, yaqrau, qur'anan. Arti dari Qaraa sendiri adalah, mengumpulkan dan menghimpun. Qur'an asalnya seperti qaraa, qiraatan, quranan. Qiraatan berarti menghimpun seluruh huruf, ayat dan kalimat antara satu dengan yang lain dalam ucapan yang penuh makna dan tersusun rapih. Al-Qur’an menurut istilah ahli agama (‘urf syara)
adalah nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang ditulis dalam mashaf.Sedangkan menurut Abdurahman ibn Muhammad Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bersifat mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantaraan Jibril dengan lafal dan maknanya dari Allah yang dinukilkan secara mutawatir; membacanya ibadah; dimulai dengan surah al Fatihah dan diakhiri surah an-Nas. Semua Nabi dan Rasul diberikan mu’jizat oleh Allah, salah satu mu’jizat Nabi Muhammad Saw yang agung adalah Al-Qur’an, disebut mu’jizat yang agung karena setidaknya ada dua fungsi utama Al-Qur’an yaitu sebagai sumber ajaran dan bukti kebenaran kenabian Nabi Muhammad Saw.
Sebagai sumber ajaran karena Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagai bukti kebenaran kenabian, Al-Qur’an mampu melemahkan berbagai tantangan dalam penciptaan karya-karya sastra yang berkembang pada waktu itu. Dari masa Rasulullah sampai saat ini terbukti tidak ada yang bisa membuat karya sehebat Al-Qur’an yang diturunkan dengan bahasa arab. Sesungguhnya bahasa arab yang digunakan dalam Al-Qur’an bukanlah redaksi Nabi Muhammad atau Jibril. Malaikat Jibril menerima wahyu Al-Qur’an dari Allah Swt. dalam bentuk makna dan lafal berbahasa arab.8 Ketika Al-Qur’an turun di negeri Arab dengan bahasa Arab, maka umat Islam pada waktu itu tidak terlalu sulit untuk memahaminya, apalagi setiap turun Al-Qur’an maksud dan tujuan dari ayat tersebut langsung dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw. Sehingga tidak mengalami kesulitan yang berarti. Berbeda halnya dengan orang ajam (non arab) seperti pemeluk Islam di Nusantara ketika membaca Al-Qur’an tidak langsung dapat memahami maksud dan tujuan dari Al-Qur’an tersebut, tetapi mesti memahami terjemah dan tafsirnya. Hal tersebut memerlukan waktu untuk mempelajari Al-Qur’an.Pengenalan awal terhadap Al-Qur’an, bagi penyebar agama Islam tentu suatu hal yang penting, karena Al-Qur’an adalah kitab Suci Agama Islam yang diimani sebagai pedoman hidup bagi orang yang telah memeluk Islam.9 Memahami Al-Qur’an merupakan hal yang penting supaya kita bisa berakhlak mulia dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Fondasi pembumian ajaran Islam sesungguhnya sudah diletakkan oleh para mubaligh Islam di Nusantara, para da’i tersebut di Jawa dikenal dengan sebutan Wali Songo. Mereka telah merumuskan strategi dakwah atau strategi kebudayaan
secara lebih sistematis, dan jangka panjang, dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan terbukti hasilnya sangat memuaskan, sehingga mayoritas di Nusantara memeluk agama Islam. Strategi dakwah yang digunakan para wali, kemudian diterapkan di pesantren oleh para kiyai atau ajengan yaitu mengajarkan agama dalam berbagai bentuk. Di pesantren diterapkan fiqhul ahkam agar mengenal dan menerapkan norma-norma keislaman secara ketat dan mendalam. Dimasyarakat oleh para ulama diterapkan fiqh al dakwah,dengan fiqh al dakwah ajaran agama diterapkan secara lentur, sesuai dengan kondisi masyarakat dan tingkat pendidikan mereka. Dan yang tertinggi adalah fiqhul hikmah (wisdom). Melalui penerapan berbagai fiqh ini Islam bisa diterima oleh semua kalangan. Dalam berdakwah ditengah-tengah masyarakat Jawa, Wali Songo tidak mempergunakan jalan paksaan, tetapi lebih dengan cara menyesuaikan ajaran-ajaran Islam dengan ajaran setempat. Seperti halnya yang diajarkan oleh Sunan Kalijogo
menggunakan sarana tembang-tembang dan wayang untuk menarik masyarakat Jawa supaya masuk agama Islam. Di Jawa, oleh para wali, seni musik dan seni suara dijadikan sarana dalam menyebarkan agama Islam. Strategi dan pendekatan yang dilakukan para wali tidak melulu pendekatan fiqh, tetapi juga dengan memanfaatkan tradisi seni dan budaya, diantaranya macapat. Macapat sebagai salah satu bentuk seni suara atau olah vocal yang memuat makna dan perjalanan hidup, Di Jawa macapat ada sebelas sekar yang merupakan kreasi Wali Songo.
dhangdanggula diciptakan oleh Sunan Kalijaga; Sinom, asmarandana, dan megatruh diciptakan oleh Sunan Giri; kinanthi diciptakan oleh Sunan Pajang; durma diciptakan oleh Sunan Bonang; gambuh dan pangkur diciptakan oleh Sunan Muria; pocung diciptakan oleh Sunan Gunung Djati; serta mijil dan maskumambang diciptakan oleh Sunan Geseng. Di tatar Sunda, macapat disebut guguritan/danding/pupuh Sunda. Jumlahnya semua ada tujuh belas, yang dibagi menjadi dua bagian yaitu sekar ageung yang terdiri dari kinanti, sinom, asmarandana dan dhandanggula. Sedangkan sekar alit terdiri dari pupuh lambang, maskumambang, pucung, ladrang, balakbak, pangkur, magatru, juru medung, mijil, wirangrong, gurisa, gambuh dan durma. Sesungguhnya macapat itu merupakan gambaran hidup setiap manusia, sejak kecil sampai meninggal dunia. mijil merupakan gambaran bayi yang baru lahir dari rahim ibunya; kinanti merupakan gambaran anak kecil yang selalu mengembirakan dan selalu dengan orang tuanya; sinommerupakan gambaran anak yang beranjak dewasa; asmarandana merupakan gambaran era anak muda; gambuh gambaran anak muda yang akan meranjak rumah tangga; dhangdangula merupakan harapan menemukan kenikmatan dan kesejahteraan setelah rumah tangga; durma merupakan gambaran seorang yang bertani yang menghadapi tantangan dalam kehidupan; pangkur merupakan era telah lanjut usia
yang harus mampu mengendalikan hawa nafsu keduniawian; megatruh merupak era memasuki era pepesten atau meninggal dunia; pocung merupakan gambaran orang yang telah meninggal dunia yang dibungkus oleh kain mori yang diikat dengan model pocong; dan maskumambang merupakan gambaran tentang orang yang berada di alam barzah. Cara-cara dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo ini menjadi inspirasi untuk generasi selanjutnya dalam berdakwah, karena tugas berdakwah diwajibkan kepada semua muslim apapun profesinya sesuai dengan kemampuannya. Salah satu budayawan Sunda yang terinspirasi oleh cara dakwah Wali Songo adalah Hidayat Suryalaga, beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan pendekatan puisi dalam bahasa Sunda berupa guguritan/danding (ciptaan sastra berbentuk syair yang biasanya dilagukan dengan tembang/ pupuh yang sangat merdu), yaitu
kitab Nur Hidayah Saritilawah Basa Sunda Al-Qur’an Winangun Pupuh lengkap 30 juz.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Budaya Sunda
Subjects: 200 – Agama > 210 Filsafat dan teori agama > 210 Filsafat dan teori agama
Divisions: Fakultas Islam Nusantara > S2 Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Unnamed user with email anasghozali@unusia.ac.id
Date Deposited: 25 Jul 2023 08:57
Last Modified: 10 Aug 2023 08:45
URI: https://repository.unusia.ac.id/id/eprint/18

Actions (login required)

View Item
View Item