TIONGHOA DI CARUBAN NAGARI: PERANAN TIONGHOA DALAM MEMBENTUK LANSKAP SEJARAH CIREBON (1430-1681)

TAUFIQ, RIZKY RIYADU (2025) TIONGHOA DI CARUBAN NAGARI: PERANAN TIONGHOA DALAM MEMBENTUK LANSKAP SEJARAH CIREBON (1430-1681). Doctoral thesis, UNUSIA.

[thumbnail of RIZKY RIYADU TAUFIQ - 190103018_compressed.pdf] Text
RIZKY RIYADU TAUFIQ - 190103018_compressed.pdf

Download (1MB)

Abstract

Masa awal perkembangan Cirebon ditandai dengan kedatangan etnis Tionghoa terutama sejak Laksamana Cheng Ho (abad ke-15) dan juru bahasanya yaitu Dhampu Awang. Berbagai sumber menyatakan, jauh sebelum kesultanan Cirebon lahir, wilayah pesisir utara Jawa Barat menjadi salah satu tujuan diaspora Tionghoa. Tinggalan arkeologis kapal karam di perairan Cirebon, temuan Situs Tamanan di bibir pantai Indramayu, dan temuan Situs Dingkel Sambimaya di Indramayu, mengungkapkan bagaimana kehadiran mereka di pesisir yang kini dikenal dengan Cirebon. Sumbangsih mereka cukup besar bagi perkembangan pembangunan wilayah pesisir sehingga kajian sejarah pesisir tidak dapat dilepaskan darinya. Catatan tertulis seperti naskah kuno dan sejumlah peninggalan arkeologis (temuan kapal karam, Situs Tamanan, dan Situs Dingkel) mengkonfirmasi itu, yang sampai saat ini masih dapat dijumpai keberadaannya.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah, mulai tahap heuristik, kritik, interpretasi, sampai pada penyusunan historiografi. Sementara itu pendekatan yang digunakan adalah arkeologi dan filologi, untuk menghadirkan bukti kuat perihal relasi Cirebon-Tionghoa. Peninggalan-peninggalan masa lalu baik berupa bangunan, struktur, maupun benda, merupakan material afterlives yang memiliki kehidupan lanjutan yang sekalipun mengalami perubahan bentuk akan tetapi memiliki makna penting dan memiliki dampak sosial pada setiap masanya.
Terdapat tiga temuan awal terkait dengan relasi Tionghoa-Cirebon. Pertama, orang-orang Tionghoa memainkan peranan penting bagi pembangunan infrastruktur fisik. Sejumlah peninggalan arkeologis begitu kental dengan nuansa Tionghoa seperti bahkan mercusuar di pelabuhan Muara Jati dibangun oleh Laksamana Cheng Ho dan pasukannya. Keraton-keraton Cirebon dan masjid juga memiliki gaya arsitektur Tionghoa yang begitu kuat. Demikian pula dengan batik mega mendung yang selama ini diklaim sebagai ciri khas Batik Cirebon merupakan bukti pengaruh Tionghoa. Beberapa di antaranya yang turut berkontribusi bagi pembangunan Cirebon adalah Laksamana Cheng Ho, Dhampu Awang, Putri Ong Tien Ni, Tan Eng Hoat, Tan Sam Cay, Angga Pradana, dan Lim Te dan Sam Te Kong.
Kedua, hubungan antara masyarakat Cirebon dan orang-orang Tionghoa tidak mengalami kendala berarti. Relasi harmonis itu terbangun sejak lama, melalui kerja sama pembangunan infrastruktur, pernikahan, keterlibatannya di pemerintahan, dan seterusnya. Kereta kencana Singa Barong dan Paksinagaliman di keraton Kasepuhan dan Kanoman merupakan perwujudan harmoni antara Cirebon dan Tionghoa, di samping Arab dan tradisi leluhur. Pernikahan Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien juga merupakan simbol harmoni Cirebon-Tionghoa, yang sampai saat ini beberapa orang Tionghoa masih terlibat dalam ritual Jum’atan. Pada posisi-posisi strategis penguasa lokal juga kerap mempercayakan orang Tionghoa, seperti pada jabatan kepala pelabuhan di Indramayu dan pembangunan Taman Gua Sunyaragi di Cirebon.
Ketiga, pengalaman panjang relasi Cirebon-Tionghoa menyisahkan banyak peninggalan arkeologis dan filologis. Untuk peninggalan arkeologis misalnya Masjid Merah Panjunan, Taman Gua Sunyaragi, Masjid Agung Sang Ciptarasa, Klenteng Talang, Vihara Dewi Welas Asih, Masjid Pejlagrahan. Klenteng Talang sebagai bangunan ikonik Tionghoa juga dahulu sebagai masjid. Sebaliknya, gaya arsitektur Tionghoa juga melekat kuat pada keraton Cirebon, masjid-masjid kuna, termasuk struktur Gua Sunyaragi. Sementara untuk peninggalan filologis dapat dijumpai dalam sejumlah historiografi tradisional lokal atau cerita babad, seperti naskah Negarakertabhumi, Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, Sedjarah Kuntjit, Nyi Junti, dan Sejarah Rante. Naskah-naskah tersebut menegaskan betapa kehadiran dan peranan Tionghoa tampak nyata bagi sejarah perkembangan Cirebon.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Uncontrolled Keywords: Cirebon, Tionghoa, Akulturasi, Islam, Kolonial
Subjects: 900 – Sejarah dan Geografi > 900 Sejarah > 907 Pendidikan, riset penelitian sejarah dan topik terkait
Divisions: Fakultas Islam Nusantara > S3 Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Mr. Anas Ahmad Anas Gozali
Date Deposited: 07 May 2026 07:58
Last Modified: 07 May 2026 07:58
URI: https://repository.unusia.ac.id/id/eprint/1054

Actions (login required)

View Item
View Item