RELASI KUASA KOLONIAL DAN IDENTITAS ISLAM (Studi Kebudayaan Kaum Ménak Santri di Purwakarta Abad Ke-19 sampai dengan Awal Abad Ke-20 M)

Maulana, Ramlan (2025) RELASI KUASA KOLONIAL DAN IDENTITAS ISLAM (Studi Kebudayaan Kaum Ménak Santri di Purwakarta Abad Ke-19 sampai dengan Awal Abad Ke-20 M). Doctoral thesis, UNUSIA.

[thumbnail of RAMLAN MAULANA - 19.01.03.033_compressed.pdf] Text
RAMLAN MAULANA - 19.01.03.033_compressed.pdf

Download (3MB)

Abstract

Disertasi ini menganalisis relasi kuasa yang dioprasikan kolonial atas
kaum ménak dalam wacana modernisasi dan misi pemberadaban di Purwakarta abad ke-19 dan abad ke-20. Sebuah relasi kuasa yang digambarkan oleh Foucault sebagai hubungan kekuasaan melalui serangkaian sistem regulasi, peraturan, hukuman dan reward, juga sistem-sistem pengetahuan yang menghasilkan rantai kekuasaan. Sistem kuasa yang memproduksi pengetahuan, sedangkan pengetahuan memiliki kuasa yang dengannya kekuasaan bukan lagi menguasai orang-orang secara fisik dan kediktatoran melainkan melalui pola yang disamarkan, disembunyikan dan diselubungkan sehingga terkesan tidak tampak. Juga merupakan hubungan kekuasaan yang berorientasi pada hegemoni Eropanisasi dan rekayasa kultural dalam budaya birokrasi dan gaya hidup yang berdampak atas dinamika identitas Islam kaum ménak. Ditariknya kaum ménak ke dalam sistem pemerintahan tidak langsung dan diberlakukannya peraturan
tentang kewajiban-kewajiban, gelar-gelar dan pangkat-pangkat, kemudian
diberikan pendidikan bergaya Barat, sekaligus diperkenalkannya mereka ke dalam kebudayaan Eropa, menancapkan wacana modernisasi dan misi
pemberadaban yang dalam teorinya foucault disebut sebagai ‘wacana’ produk relasi kuasa yang beroperasi dalam jaringan kekuasaan melalui pengetahuan tidak netral, dalam arti bersifat politis. Pada titik ini, orientasi kaum ménak terhadap relasi kuasa kolonial menjadi cukup krusial dalam pembentukan identitas Islam mereka.
Memakai metode sejarah dengan pendekatan multidisipliner, penelitian
ini menemukan fakta bahwa, Islam priyayi yang dalam penelitian Geertz
sebagai abangan dan menurut Suterland sebagai kejawen, tidak sejalan dengan ménak santri. Penelitian ini menunjukan, Identitas Islam ménak santri sebagai Islam Sufistik yang mengalami hibriditas kultural pasca adanya orientasi mereka atas wacana kolonial dalam relasi kuasa. Budaya barat yang diserap ke dalam kehidupan mereka, betul dapat menimbulkan perubahan namun tidak merombak seluruh segi kehidupan, melainkan justru karena kemampuannya dalam melakukan proses mimicri pada akhirnya tercipta resistensi dan subversi halus melalui kebudyaan. Sekularisme, liberalisme dan westernisasi yang ditanamkan Belanda atas mereka mengalami proses akulturasi dalam bingkai tradisi nusantara dan spirit Islam.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Uncontrolled Keywords: Relasi Kuasa, Ménak Santri, Identitas Islam, Hibriditas Kultural.
Subjects: 900 – Sejarah dan Geografi > 900 Sejarah > 907 Pendidikan, riset penelitian sejarah dan topik terkait
Divisions: Fakultas Islam Nusantara > S3 Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Mr. Anas Ahmad Anas Gozali
Date Deposited: 07 May 2026 07:53
Last Modified: 07 May 2026 07:53
URI: https://repository.unusia.ac.id/id/eprint/1053

Actions (login required)

View Item
View Item